Proses Pendidikan Harus Menyentuh Aksara Dengan Taktik Keteladanan, Adaptasi Rutinitas, Dan Disiplin

Sahabat Edukasi yang sedang berbahagia...

Menumbuhkan huruf mulia pada diri anak diharapkan interaksi yang baik antara orang tua, sekolah, dan masyarakat. 

Lingkungan rumah, sekolah, dan keseharian belum dewasa harus menerapkan taktik pengembangan huruf dan sikap semoga terbentuk kepribadian anak yang baik.

Demikian diungkapkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Anies Baswedan dalam Seminar Nasional Pendidikan yang diselenggarakan di Gedung Merdeka Museum Konferensi Asia Afrika, Bandung, Sabtu (28/2/2019). 

Seminar yang dihadiri oleh lebih banyak didominasi guru dan kepala sekolah ini bertajuk "Investasi Bangsa Melalui Pendidikan Karakter Sejak Dini untuk Membangun Indonesia yang Bermartabat".

"Proses berguru yang tidak menyentuh huruf bukanlah disebut sebagai pendidikan. Oleh alasannya yakni itu, huruf itu harus. Maka tumbuhkan huruf baik pada belum dewasa itu dengan tiga taktik pengembangan huruf dan perilaku," tegas Mendikbud.

Strategi itu yakni keteladanan, penyesuaian rutinitas, dan disiplin. Menurut Mendikbud menumbuhkan huruf bukan dilakukan melalui lisan, melainkan perbuatan. 

Mendikbud mencontohkan, jikalau orang renta ingin anaknya mematuhi rambu-rambu kemudian lintas, maka orang renta juga harus melakukannya dalam kehidupan sehari-hari dengan tidak melanggar peraturan selama berada di jalan raya.

Ketegasan yang mendidik juga perlu diterapkan semoga menumbuhkan iman antara anak dan orang tua, guru, serta masyarakat. Mendikbud kembali mencontohkan, anak terkadang melaksanakan negosiasi-negosiasi semoga keinginannya dipenuhi.

Orang renta harus menjaga konsistensi terhadap keputusan yang telah ia tetapkan. "Misalnya, orang renta harus pergi, sementara anak tetap tinggal di rumah. Meski anak merengek, orang renta harus menjaga ketegasan terhadap keputusannya. Dengan diberikan pengertian menyerupai itu, anak perlahan akan tumbuh mutual trust terhadap orang tuanya," tutur Mendikbud.

Oleh alasannya yakni itu, Kementerian mempunyai cita-cita, yaitu terbentuknya manusia dan ekosistem pendidikan dan kebudayaan yang berkarakter dan dilandasi semangat gotong royong. "Kami ingin ada penguatan terhadap aktor-aktor pendidikan, yaitu orang tua, guru, kepala sekolah, semoga apa yang kita cita-citakan terwujud demi pendidikan di Indonesia yang lebih baik," jelasnya. (Ratih Anbarini)

Belum ada Komentar untuk "Proses Pendidikan Harus Menyentuh Aksara Dengan Taktik Keteladanan, Adaptasi Rutinitas, Dan Disiplin"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel