Mendikbud Tak Mau Unas 2019 Tegang Menyeramkan

Sahabat Edukasi yang sedang berbahagia...

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan berupaya mengakibatkan ujian nasional (unas) sebagai sesuatu yang rileks dan tidak mengerikan. 

Setelah tetapkan unas tidak lagi memilih kelulusan pada mulai jenjang SD (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA), berikutnya kemendikbud akan mencopot  sejumlah hal yang mengakibatkan unas begitu menyeramkan.
   
"Kami ingin melaksanakan desakralisasi unas," kata Mendikbud Anies Baswedan dalam diskusi dengan Jawa Pos di Graha Pena Jakarta kemarin (16/1). "Ini ialah ujian biasa yang harusnya dapat dihadapi siswa dengan rileks," tambahnya.
   
Posisi unas sebagai penentu kelulusan, berdasarkan Anies ialah hal utama yang menciptakan unas begitu sakral. Karena itu, siswa, guru, maupun wali murid menghadapinya dengan segenap upaya untuk dapat melaluinya dengan baik. 

Bagi siswa, jikalau hingga gagal yang berakibat tidak lulus, tentu akan aib dan membuang waktu setahun untuk mengulang. Bagi guru, sekolah, dan dinas pendidikan, tingkat kelulusan akan memilih prestasi dan karir mereka.
   
"Karena itu, evaluasi prestasi guru pun akan diubah. Tidak semata-mata hasil unas siswa, namun juga UKG (ujian kompetensi guru, Red)," papar Anies. Hal lain yang tidak kalah penting, lanjut lulusan Universitas Gajah Mada, itu ialah rujukan pengamanan soal unas. Selama ini, pengerahan polisi yang begitu masif dalam mengamankan distribusi soal unas ikut memberi andil dalam mengakibatkan unas begitu menyeramkan.
   
"Nanti tidak ada lagi polisi. Bukan berarti boleh bocor, namun buat apa juga cari bocoran," ucap Anies. "Saya ingin mengakibatkan lingkungan pendidikan sebagai zona kejujuran, dan orang akan mau jujur jikalau mereka dipercaya akan berbuat jujur," imbuhnya. Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) Zainal Arifin menambahkan, banyak proposal dari Anies untuk pelaksanaan unas. "Masukan-masukan itu nanti resminya tertuang dalam SOP Unas yang sekarag dalam tahap finalisasi," katanya,

Selain pengurangan pelibatan polisi, Zainal juga menyatakan sekolah tinggi tinggi tidak akan dilibatkan lagi dalam pengawasan unas. Hal itu dilakukan dalam tiga tahun terakhir untuk meyakinkan kampus bahwa pelaksanaan unas itu objektif. Sehingga nilainya sah untuk pertimbangan penerimaan mahasiswa baru.
     
Dalam unas tahun ini, kampus hanya berperan untuk urusan pemindaian lembar balasan siswa. Pasalnya alat pemindai ini hanya dimiliki oleh kampus. Khususnya kampus negeri yang bertahun-tahun terlibat dalam penyelenggaraan unas. Meskipun pengawasan unas mulai dikurangi, Zainal menjamin dapat dipercaya ujiannya. Pengurangan intensitas pengawasan itu diambil sehabis nilai unas dipastikan tidak menjadi penentu kelulusan siswa. Kelulusan siswa diserahkan ke guru dan sekolah masing-masing.
     
Dia jua mengkritisi aktivitas ritual-ritual jelang unas selama ini. Seperti mencuci pensil ujian dengan air kembang, bahkan hingga prosesi bakar kemenyan. Untuk urusan berdoa, Zainal menyampaikan boleh-boleh saja asalkan dilakukan dengan tata cara yang benar dan wajar. Tidak perlu hingga berlebihan, menyerupai berdoa di makam leluhur.
     
"Setelah unas bukan penentu kelulusan, pengawasan tidak seketat dulu, jikalau masih curang berarti masyarakat kita sakit," terang dia. Dia berharap unas 2019 ini menjadi momentum ujuk kejujuran siswa, guru, kepala sekolah, dinas pendidikan, hingga kepala daerah.
     
Zainal menyampaikan sebentar lagi SOP Unas 2019 diterbitkan. Dia menuturkan, biasanya POS unas terbit setiap Januati. sedangkan ujiannya berlangsung April. "Karena kini ada perubahan konsep fungsi unas, jadi butuh penyempurnaan SOP yang sejatinya sudahbkita rancang tahun lalu," tuturnya.(ind/wan/sof)

Sumber artikel : http://www.jpnn.com

Belum ada Komentar untuk "Mendikbud Tak Mau Unas 2019 Tegang Menyeramkan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel