Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Metode Pengajaran Kurikulum 2019 Memakai Metodologi Pengajaran Partisipatoris

Sahabat Edukasi yang sedang berbahagia...

Metode pembelajaran berbasis eksperimen yang menuntut siswa mengajarkan kembali bahan yang dipraktikkan kepada siswa lain sangat baik diterapkan di sekolah. 

Sebab, metode tersebut berdampak pada sangat tingginya daya serap dan lekat keilmuan dalam memori siswa.

Demikian disampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Dr. Mohammad Nuh, DEA ketika memperlihatkan sambutan pada Halal bi Halal Keluarga Besar Kemdikbud di Plasa Insan Berprestasi Gedung Ki Hajar Dewantara, Kompleks Kemdikbud, Senayan, Jakarta, Selasa siang, 5 Agustus 2014. Hadir dalam program semua pejabat eselon I, II, III, dan IV di lingkungan Kemdikbud.

Mohammad Nuh mengatakan, dalam piramida pembelajaran, ada dua jenis metode pengajaran yaitu passive teaching methodology dan participatory teaching methodology. Keduanya terkait daya serap siswa terhadap bahan belajar.

Pada metode pertama, kegiatan yang masuk dalam kelompok pasif ini ialah berguru sendiri, membaca, audio-visual, dan demonstrasi. Dengan berguru sendiri, ilmu yang sanggup menempel dalam memori anak hanya 5%. “Membaca hanya punya donasi 10 persen,”ujar Mohammad Nuh. Audio-visual berkontribusi 20% dan demonstrasi 30%.

Pada metode kedua, kontibusi 50% diberikan oleh diskusi kelompok. Kontribusi 75% disumbang praktik/eksperimen. Sedangkan penyampaian kembali bahan kepada siswa lain berkontribusi 90%. “Apa yang kita gagas dalam Kurikulum 2019, yaitu mulai dari mengamati, bertanya, memikirkan, eksperimen, mencoba, hingga pada balasannya memberikan atau mengomunikasikan intinya kelompok teaching berbasis participatory,” tegasnya.

Mohammad Nuh kemudian menceritakan aspek teologis dari penggunaan metode itu. Sekitar tahun 2005-2006, ia mengunjungi K.H Abdullah Faqih, pengasuh Pondok Pesantren Langitan, Tuban, Jawa Timur. Abdullah Faqih, kenangnya, memberikan pentingnya pengamalan dan pengajaran ilmu kepada orang lain. Ia mengutip sebuah hadis yang menyampaikan bahwa bila orang dikaruniai ilmu kemudian mengamalkan dan mengajarkannya kepada orang lain, maka Allah SWT akan mengajarkan apa yang belum diketahuinya.

Dalam program halal bi halal itu Mohammad Nuh memberikan permohonan maaf kepada seluruh pegawai Kemdikbud. Ia pun berpamitan alasannya ialah pada Oktober mendatang ia akan mengakhiri masa jabatannya dalam Kabinet Indonesia Bersatu II.

Menurut Sekretaris Jenderal Kemdikbud Prof. Ainun Na’im, Ph.D., halal bi halal bertujuan meningkatkan tali silaturahmi di antara para pegawai Kemdikbud. Acara ini, katanya, akan meningkatkan kualitas relasi kerja. “Dan insya Allah akan meningkatkan layanan kita kepada masyarakat di bidang pendidikan dan kebudayaan,” ujarnya.

Acara halal bi halal juga diisi ceramah oleh Nurul Qomar, anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Mantan pelawak ini memberikan bahan wacana pentingnya mengkaji Al-Qur’an dan menjalankan salat. “Salat yang ditegakkan dengan benar akan besar lengan berkuasa psikologis pada pelakunya,” ucapnya. Ceramah disisipi dengan guyonan yang menciptakan hadirin tertawa terpingkal-pingkal.* (Billy Antoro)

Posting Komentar untuk "Metode Pengajaran Kurikulum 2019 Memakai Metodologi Pengajaran Partisipatoris"