Untuk Mengurangi Bahaya Peristiwa Dan Risiko Bencana, Bahan Mitigasi Peristiwa Masuk Kurikulum 2019

Sahabat Edukasi yang sedang berbahagia...

Mitigasi ialah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi bahaya bencana. 

Bencana ialah insiden atau rangkaian insiden yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alamdan/atau faktor nonalam maupun faktor insan sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan efek psikologis.


Bencana terbagi menjadi beberapa kategori, yakni peristiwa alam, peristiwa nonalam, dan peristiwa social, dengan klarifikasi sebagai berikut :

  • Bencana alam ialah peristiwa yang diakibatkan olehperistiwa atau serangkaian insiden yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor.

  • Bencana nonalam ialah peristiwa yang diakibatkan oleh insiden atau rangkaian insiden nonalam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit.

  • Bencana sosial ialah peristiwa yang diakibatkan oleh insiden atau serangkaian insiden yang diakibatkan oleh insan yang mencakup konflik sosial antarkelompok atau antarkomunitas masyarakat, dan teror.

Lihat selengkapnya terkait hal tersebut di atas pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2007 ihwal Penanggulangan Bencana (download/unduh UU No. 24 tahun 2007).

Selanjutnya terkait dengan Mitigasi (serangkaian upaya untuk mengurangi risiko peristiwa termasuk bahaya bencana), bahan ihwal Mitigasi ini oleh Kemdikbud telah dimasukkan dalam Kurikulum 2019.

Seperti informasi yang telah dipublikasikan pada situs Kemdikbud RI ihwal Materi Mitigasi Bencana Masuk Kurikulum 2019, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh mengatakan, penyampaian bahan mitigasi peristiwa tidak perlu dimasukkan dalam mata pelajaran khusus, tetapi bisa melalui acara ekstrakurikuler, menyerupai Pramuka.

“Tidak perlu masuk ke mata pelajaran inti lantaran materinya bisa menjadi berat. Sangat memungkinkan melalui ekstrakurikuler,” kata Mendikbud, di Medan, Sumatera Utara, (1/2/2014).

Ia menjelaskan, Kemdikbud telah menyusun bahan khusus mengenai kebencanaan, mulai dari pengenalan gejala musibah sampai proses evakuasi. Setiap tempat mempunyai karakteristik bahaya peristiwa yang berbeda, mulai dari gempa, banjir, longsor, sampai letusan gunung api, sehingga materinya  dibentuk sekolah dan diadaptasi dengan karakteristik bahaya peristiwa yang dihadapi.

Materi mitigasi peristiwa untuk sekolah pun sudah menjadi buku dan CD yang disusun Kemdikbud bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

“Seperti sekolah-sekolah di Padang yang rentan peristiwa gempa dan tsunami. Sekolah di Yogyakarta rawan gempa dan letusan gunung berapi. Sudah ada panduan yang masuk dalam bahan lokal. Sekolah-sekolah di sekitar Sinabung juga harus paham mitigasi peristiwa ini,” terang Mendikbud.

Dalam rancangan Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemdikbud disebutkan, bahan mitigasi peristiwa diadaptasi dengan kebutuhan setiap sekolah.

Referensi artikel : UU No. 24 tahun 2007 dan Kemdikbud RI

Belum ada Komentar untuk "Untuk Mengurangi Bahaya Peristiwa Dan Risiko Bencana, Bahan Mitigasi Peristiwa Masuk Kurikulum 2019"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel