Hidupku Untuk Pendidikan

“Apapun yang terjadi dalam hidup ini yakni untuk dijalani, untuk disyukuri, dan untuk dinikmati.” (Dadang JSN)

Akhir-akhir ini saya cukup disibukkan dengan aneka macam macam tugas-tugas dan pekerjaan-pekerjaan yang harus saya selesaikan, di samping itu saya pun harus meluangkan sebagian waktu berhargaku untuk menjalankan kewajibanku sebagai hamba Allaah dalam beribadah kepada-Nya semata, terlebih di bulan Ramadhan 1435 H, yakni bulan yang penuh berkah, rahmat, dan ampunan-Nya, dibutuhkan menjadi momentum sempurna dan istimewa untuk semakin mendewasakan diri sekaligus mengasah rasa dedikasi diri hanya untuk kebaikan-kebaikan yang diberkah lagi total, bukan hanya untuk kepentingan duniawi saja namun juga kepentingan-kepentingan ukhrowi sebagai bekal di selesai hayatku nanti.

Dalam kesempatan kali ini saya akan mengembangkan sedikit kisah positif dalam penggalan kisah sepanjang hidupku. Masa kecilku dibesarkan di lingkungan desa yang tergolong daerah pelosoknya Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, tepatnya di Dukuh Kaliasin, Desa Jari, Kecamatan Gondang, Kabupaten Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur. Ibuku seorang pensiunan PNS guru SD yang telah pensiun mulai tahun 2019, dan ayah kandungku berprofesi sebagai petani biasa, namun dia mempunyai “senses of humor” yang tinggi.

Bila kuingat masa-masa kecilku dulu, rasanya ingin kukembali mengalaminya. Saat itu membaca yakni makanan embel-embel sehari-hariku, mungkin sebab ibukku merupakan seorang guru di SD tempatku menimba ilmu, dia tak segan-segan dan tiada pernah bosan untuk terus menasehatiku di tengah-tengah kealpaanku ketika itu, wajarlah namanya anak kecil, inginnya terus bermain melulu. 

Selain itu ada motivasi dari diri-sendiri yang berafiliasi dengan nama pemberian kedua orang tuaku yang mencantumkan “Juara” dalam formasi nama panjangku, hal ini menciptakan saya terus termotivasi masa itu, rasanya aib jika tidak sanggup ranking di kelas, dan hasilnya alhamdulillaah… mulai kelas 1 sampai kelas 6 ketika duduk di kursi SD itu saya selalu mendapat ranking 1, termasuk juga Nilai Ebtanas Murni yang menjadi salah satu penentu kelulusan pendidikan dasarku kala itu.

Dari sini saya ingin menyapa teman-teman kecilku alumni SDN Jari 1 tahun pelajaran 1994/1995 yang masih tersimpan di benakku kini, di antaranya; 1. Hartono, 2. Hartini, 3. Yati A, 4. Yati, 5. Jariyanto, 6. Darianto, 7. Purwanto, 8. Priadi, 9. Supriadi, 10. Umbini, 11. Duwin, 12. Pani, 13. Sakun, 14. Joko, 15. Edi Suratno, 16. Yasminten, 17. Wiji, 18. Marmi, 19. Mariyono, 20. Andik, 21. Laminten, 22. Rukayah, 23. Kartini, 24. Hanto Sutopo. Apa kabar kalian semua kawan-kawanku…? Semoga kalian semua senantiasa sehat-sehat serta selalu berbahagia beserta keluarga di manapun kalian berada… Aamiin…

Setelah lulus dari SDN Jari 1, Alhamdulillaah saya mendapat kesempatan untuk melanjutkan pendidikanku di SMPN 2 Bubulan yang berada di Desa Senganten Kecamatan Gondang, yang ketika ini telah berubah nama menjadi SMPN 1 Gondang sampai lulus tahun pelajaran 1997/1998 dengan hasil yang cukup membanggakanku terlebih untuk kedua orang tuaku, 

Alhamdulillaah walaupun prestasiku tidak segemilang di SD, namun saya sudah bersyukur telah pernah meraih juara 1 walaupun hanya sekali tepatnya di kelas 1 SMP, selebihnya masuk dalam 4 besar, sesudah itu juara-juara gres lainnya terbit sampai kelas 3 unggulan; teman-teman berprestasiku kala itu yakni Yunanto dan Indah Sri Wahyuni… “Jempolku” untuk kalian, saya yakin kalian sudah jadi “orang” kini ini… hehehe…

Alumni SDN Jari 1 seangkatanku yang melanjutkan di SMP tempatku mencar ilmu sampai kembali bersamaan lulus denganku pada tahun pelajaran 1997/1998 yakni ; Hartono, Darianto, Jaryanto, Andik, Supriyadi, Hartini, Yati, dan Umbini… Salut untuk kalian semua, termasuk juga atas kesetiaan kalian dalam menemaniku jalan kaki sekitar 2 km selama 3 tahun denganku… Kalian sungguh luar biasa…

Selepas itu kembali ku mengucap puji syukur kehadirat Allaah SWT yang menawarkan jalan hidupku untuk terus melanjutkan ke tingkat SLTA tepatnya di SMU Negeri 3 Bojonegoro sampai lulus pada tahun pelajaran 2000/2001. Setelah lulus SLTA saya menunda 1 tahun untuk kursus Komputer di LPIKOM Bojonegoro, selanjutnya dari tahun 2002 saya gres mulai masuk ke jenjang perguruan tinggi di IKIP PGRI Bojonegoro Program Studi FKIP-PKn sampai lulus pada tahun 2006.

Singkat kisah pada awal tahun 2008 saya merantau ke Pulau Sumatera, tepatnya di sebuah daerah di Kabupaten Tebo Provinsi Jambi, sampai pada selesai tahun 2008 saya mencoba mengikuti Tes Penerimaan CPNS Formasi Umum, untuk yang pertama kali dan sekaligus untuk yang terakhir kalinya. Alhamdulillaah lulus, insya Allaah… inilah salah satu berkat dari do’a lapang dada ibuku tercinta...

Dalam beberapa bulan selanjutya di awal tahun 2009, SK CPNS pun saya terima beserta kiprah dan pengabdianku di SMPN Satu Atap Sungai Karang Kabupaten Tebo sampai hari ini...

Banyak kisah suka dan sedih yang kualami dalam kurun waktu sekitar 5 tahun berjalan selama bertugas di SMPN Satu Atap Sungai Karang yang notabene berlokasi di daerah HTI (Hutan Tanaman Industri), yang mana di daerah ini akomodasi susukan jaringan listrik PLN termasuk juga jembatan yang menghubungkan antara Kecamatan VII Koto Ilir dengan Desa Sungai Karang belum tersedia, alhasil menyeberangi sungai Batanghari dengan sarana "perahu kecil bermesin" pun menghiasi hari-hari perjalanan dinasku dari tempat tinggalku ke sekolah ini. Walaupun begitu, namun alhamdulillaah… saya sangat menikmati semua ini…

Semakin lama, semakin terasa pula, bahwa ternyata keterbatasan-keterbatasan yang ada ini menciptakan sebuah tantangan tersendiri, di mana tuntutan untuk sekolah ialah harus bisa menghasilkan siswa-siswi maupun lulusan yang berkualitas tentunya. Hal ini tak akan mungkin saya sepelekan, bahkan ini telah menyatu dalam darahku serta bermetamorfosis dalam visi dan orientasi utama hidupku. 

Namun di sisi lain, dengan adanya keterbatasan dan minimnya sarana prasarana yang tersedia inilah yang balasannya justru menjadi motivasi positif bagi pihak sekolah, komite sekolah, seluruh wali murid, dan segenap pemerintah desa serta seluruh elemen masyarakat Desa Sungai Karang untuk berpartisipasi aktif serta bersinergi keras demi tercapainya kualitas pendidikan yang berkualitas yang telah diidam-idamkan bersama, sehingga lambat laun semua “impian-impian” itu sanggup terwujud menjadi nyata. Aamiin…

Selanjutnya, aneka macam cara alternatif pun ditempuh pihak sekolah dan komite sekolah yang didukung oleh segenap pemerintah desa serta masyarakat Desa Sungai Karang demi terpenuhinya sarana dan prasarana sekolah yang lebih layak, tentunya dengan satu tujuan utama yakni untuk memperlancar proses belajar-mengajar di SMPN Satu Atap Sungai Karang, beberapa upaya bersama ini dilakukan dalam bentuk permohonan ataupun laporan-laporan resmi kepada Dinas Pendidikan Kebudayaan Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Tebo maupun pengajuan permohonan-permohonan pinjaman sarana penunjang pembelajaran kepada perusahaan-perusahaan di sekitar sekolah, dan alhamdulillaah… seperangkat komputer sudah pernah dihibahkan PT. Tebo Multi Agro untuk sekolah kami.

Mengenai perkembangan sekolah tempatku bertugas, alhamdulillaah… kini sudah mulai mengalami kemajuan signifikan yang patut disyukuri, selain telah mempunyai 3 lokal gedung permanen untuk ruang belajar, tahun ini juga telah terlaksana sebuah gedung perpustakaan yang sudah dilengkapi pula pula dengan buku-buku bacaan siswa maupun guru yang jumlahnya kurang lebih 1600 eksemplar. 

Selain adanya penambahan sarana dan prasarana sekolah, jumlah penerima didiknya dari tahun ke tahunnya pun semakin bertambah, yang mana pada awal mula bangun sekolah ini, untuk jumlah penerima didik sekaligus yang berhasil lulus untuk pertama kalinya pada tahun pelajaran 2009/2019 sebanyak 7 anak, dan pada tahun pelajaran 2014/2019 kini ini jumlah keseluruhan penerima didik telah lebih dari 100 anak didik. 

Hingga tahun pelajaran 2019/2014 ini, SMPN Satu Atap Sungai Karang telah meluluskan 5 (lima) kali tamatan dengan persentase kelulusan 100 % pada setiap tahunnya. Semoga prestasi ini sanggup semakin ditingkatkan di masa-masa mendatang, bukan hanya lulus 100 % saja, namun juga peningkatan perolehan nilai Ujian Nasional seluruh penerima didik yang semakin meningkat pula, dan bukan semata nilai akademik saja yang semakin baik, namun juga huruf / kepribadian berbudi pekerti luhur bagi mereka semua. Aamiin…

Akhirnya, sebagai abdi Negara sekaligus abdi masyarakat, secara eksklusif saya semakin memahami betapa kompleksnya persoalan-persoalan terkait pendidikan ini, apalagi di daerah pelosok dan terpencil menyerupai Desa Sungai Karang. 

Oleh sebab itu, bersama dengan aneka macam kesulitan-kesulitan yang masih menghadang, namun tak sedikitpun kuterbesit untuk berinisiatif pindah/mutasi kiprah dari SMPN Satu Atap Sungai Karang, terlebih lagi pada ketika ini saya yakni satu-satunya guru PNS yang secara definitif dan administratif ditugaskan untuk mengabdikan diri di sekolah yang telah terakreditasi B pada selesai tahun 2019. 

Segala rintangan ini pantas kuanggap sebagai tantangan-tantangan kemajuan yang layak untuk terus diperjuangkan. Kata kuncinya “apapun yang terjadi dalam hidup ini yakni untuk dijalani, untuk disyukuri, dan untuk dinikmati.” Dan kesimpulannya ialah bahwa Allah SWT telah mengarahkan jalan hidupku, hidupku untuk pendidikan… …!

Belum ada Komentar untuk "Hidupku Untuk Pendidikan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel