Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Teks / Naskah Sumpah Cowok Yang Benar Dan Sejarah Peringatan Hari Sumpah Cowok – 28 Oktober

Sahabat Edukasi yang sedang berbahagia...

Pada hari ini, tanggal 28 Oktober 2019 yang bertepatan dengan Peringatan Hari “Sumpah Pemuda” ke-85 (depalan puluh lima). 

“Sumpah Pemuda” yakni satu tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia. Ikrar ini dianggap sebagai kristalisasi semangat untuk menegaskan impian berdirinya negara Indonesia.

Peserta Kongres Pemuda II
Dalam sebuah kalimat penting sekaligus bermakna yang telah didengungkan oleh proklamator kita, Bung Karno yaitu “JAS MERAH” (jangan sekali-kali melupakan sejarah). 

Oleh alasannya itu, sebagai bab dari bangsa (warga negara Indonesia), terlebih bagi para pemuda-pemudi Indonesia Selayaknya mengetahui sejarah-sejarah penting bangsa Indonesia, salah satunya sejarah wacana “Sumpah Pemuda” ini. 

Dengan begitu, selain sanggup menambah wawasan kebangsaan yang dibutuhkan sanggup meningkatkan kesadaran dalam berbangsa dan bernegara sekaligus sanggup menjadi motivasi faktual dalam berpartisipasi aktif “membangun bangsa” dalam rangka mengisi kemerdekaan NKRI tercinta tentunya.

Teks/Naskah Sumpah Pemuda yang benar, menurut ejaran gres Bahasa Indonesia

Sumpah Pemuda

Kami Putra dan Putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
Kami Putra dan Putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Kami Putra dan Putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.

Sejarah Sumpah Pemuda

Yang dimaksud dengan "Sumpah Pemuda" yakni keputusan Kongres Pemuda Kedua yang diselenggarakan dua hari, 27-28 Oktober 1928 di Batavia (Jakarta), Keputusan ini menegaskan impian akan ada "tanah air Indonesia", "bangsa Indonesia", dan "bahasa Indonesia". Keputusan ini juga dibutuhkan menjadi asas bagi setiap "perkumpulan kebangsaan Indonesia" dan supaya "disiarkan dalam segala surat kabar dan dibacakan di muka rapat perkumpulan-perkumpulan"

Rumusan Kongres Sumpah Pemuda ditulis Moehammad Yamin pada secarik kertas yang disodorkan kepada Soegondo ketika Mr. Sunario tengah berpidato pada sesi terakhir kongres (sebagai utusan kepanduan) sambil berbisik kepada Soegondo: Ik heb een eleganter formulering voor de resolutie (Saya memiliki suatu formulasi yang lebih elegan untuk keputusan Kongres ini), yang lalu Soegondo membubuhi paraf oke pada secarik kertas tersebut, lalu diteruskan kepada yang lain untuk paraf oke juga. Sumpah tersebut awalnya dibacakan oleh Soegondo dan lalu dijelaskan panjang-lebar oleh Yamin.

Kongres Pemuda Kedua

Kongres Pemuda Kedua yakni kongres pergerakan perjaka Indonesia yang melahirkan keputusan yang memuat ikrar untuk mewujudkan impian berdirinya negara Indonesia, yang dikenal sebagai Sumpah Pemuda.

Persiapan Kongres

Upaya mempersatukan organisasi-organisasi perjaka pergerakan dalam satu wadah telah dimulai semenjak Kongres Pemuda Pertama 1926. Sebagai kelanjutannya, tanggal 20 Februari 1927 diadakan pertemuan, namun pertemuan ini belum mencapai hasil yang final. Sebagai pelopor Kongres Pemuda Kedua yakni Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi perjaka yang beranggota pelajar dari seluruh Hindia Belanda.

Pada tanggal 3 Mei 1928 diadakan pertemuan lagi untuk persiapan kongres kedua, dan dilanjutkan pada 12 Agustus 1928. Pada pertemuan terakhir ini telah hadir perwakilan semua organisasi perjaka dan diputuskan untuk mengadakan kongres pada bulan Oktober 1928, dengan susunan panitia yang membagi jabatan pimpinan kepada satu organisasi perjaka (tidak ada organisasi yang rangkap jabatan) sebagai berikut:
1.      Ketua: Sugondo Djojopuspito (PPPI)
2.      Wakil Ketua: R.M. Joko Marsaid (Jong Java)
3.      Sekretaris: Muhammad Yamin (Jong Soematranen Bond)
4.      Bendahara: Amir Sjarifudin (Jong Bataks Bond)
5.      Pembantu I: Johan Mohammad Cai (Jong Islamieten Bond)
6.      Pembantu II: R. Katjasoengkana (Pemoeda Indonesia)
7.      Pembantu III: R.C.I. Sendoek (Jong Celebes)
8.      Pembantu IV: Johannes Leimena (Jong Ambon)
9.      Pembantu V: Mohammad Rochjani Su'ud (Pemoeda Kaoem Betawi)

Pelaksanaan

Kongres dilaksanakan di tiga gedung yang berbeda dan dibagi dalam tiga kali rapat :
1.      Rapat pertama, Sabtu, 27 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng). Dalam sambutannya, ketua PPPI Sugondo Djojopuspito berharap kongres ini sanggup memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda. Acara dilanjutkan dengan uraian Moehammad Yamin wacana arti dan korelasi persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang sanggup memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, aturan adat, pendidikan, dan kemauan.
2.      Rapat kedua, Minggu, 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop, membahas duduk kasus pendidikan. Kedua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, beropini bahwa anak harus menerima pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis.
3.      Pada rapat penutup, di gedung Indonesische Clubgebouw di Jalan Kramat Raya 106, Sunario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Sedangkan Ramelan mengemukakan, gerakan kepanduan tidak sanggup dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan semenjak dini mendidik belum dewasa disiplin dan mandiri, hal-hal yang dibutuhkan dalam perjuangan.

Sebelum kongres ditutup diperdengarkan lagu "Indonesia Raya" karya Wage Rudolf Supratman yang dimainkan dengan biola saja tanpa syair, atas saran Sugondo kepada Supratman. Lagu tersebut disambut dengan sangat meriah oleh akseptor kongres. Kongres ditutup dengan mengumumkan rumusan hasil kongres. Oleh para perjaka yang hadir, rumusan itu diucapkan sebagai Sumpah Setia.

Peserta

Para akseptor Kongres Pemuda II ini berasal dari banyak sekali wakil organisasi perjaka yang ada pada waktu itu, menyerupai Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Sekar Rukun, PPPI, Pemuda Kaum Betawi, dll. Di antara mereka hadir pula beberapa orang perjaka Tionghoa sebagai pengamat, yaitu Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok dan Tjio Djien Kwie namun hingga ketika ini tidak diketahui latar belakang organisasi yang mengutus mereka.

Sementara Kwee Thiam Hiong hadir sebagai seorang wakil dari Jong Sumatranen Bond. Diprakarsai oleh AR Baswedan perjaka keturunan arab di Indonesia mengadakan kongres di Semarang dan mengumandangkan Sumpah Pemuda Keturunan Arab.

Gedung

Bangunan di Jalan Kramat Raya 106, daerah dibacakannya Sumpah Pemuda, yakni sebuah rumah pondokan untuk pelajar dan mahasiswa milik Sie Kok Liong.

Gedung Kramat 106 sempat dipugar Pemerintah Daerah DKI Jakarta 3 April-20 Mei 1973 dan diresmikan Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, pada 20 Mei 1973 sebagai Gedung Sumpah Pemuda. Gedung ini kembali diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 20 Mei 1974. Dalam perjalanan sejarah, Gedung Sumpah Pemuda pernah dikelola Pemerintah Daerah DKI Jakarta, dan ketika ini dikelola Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata.

Referensi gambar dan artikel : http://id.wikipedia.org

Posting Komentar untuk "Teks / Naskah Sumpah Cowok Yang Benar Dan Sejarah Peringatan Hari Sumpah Cowok – 28 Oktober"