Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Amanat Menteri Sosial Ri Pada Upacara Peringatan Hari Pendekar 2019

Download Naskah/Teks Pidato Sambutan/Amanat Menteri Sosial (Mensos) Republik Indonesia (RI), Ibu Khofifah Indar Parawansa pada Upacara Peringatan Hari Pahlawan ke-71 Tanggal 10 November 2019_Pada upacara bendera merah putih dalam rangka memperingati Hari Pahlawan tahun 2019, pembina upacara sanggup memberi amanat upacara dengan cara membacakan teks amanat Mensos RI. Adapun file PDF naskah sambutan Menteri Sosial Republik Indonesia pada Upacara Peringatan Hari Pahlawan tahun 2019 sanggup Bapak/Ibu unduh pada link yang tersedia di halaman ini.


 Ibu Khofifah Indar Parawansa pada Upacara Peringatan Hari Pahlawan ke Amanat Menteri Sosial RI pada Upacara Peringatan Hari Pahlawan 2020


Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Salam Sejahtera bagi kita semua,

Saudara-saudara para akseptor upacara, patriot bangsa yang budiman,

Puji syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, yang memberi kita kekuatan jasmani dan rohani untuk terus mengemban misi kejuangan dalam mewujudkan perikehidupan bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Setiap tanggal 10 November, Bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan, sebagai momen reflektif untuk memberi makna atas pengorbanan para hero kusuma bangsa, dengan menyalakan jiwa kepahlawanan dalam usaha mengisi kemerdekaan.

Peringatan tersebut didasarkan pada insiden "Pertempuran 10 November 1945" di Surabaya, sebagai pertempuran pertama dan terbesar antara pasukan Indonesia dengan pasukan absurd sehabis proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, dengan memakan korban jiwa yang sangat besar.
Baca Sejarah Singkat Pertempuran Surabaya 10 November 1945
Saudara sebangsa setanah air, patriot bangsa yang budiman,

Peristiwa tersebut memberi kita pelajaran moral bahwa warisan terbaik para hero bangsa bukanlah "politik ketakutan', melainkan "politik harapan". Bahwa seberat apapun tantangan yang dihadapi dan keterbatasan yang ada, tidak akan menyurutkan semangat perjuangan.

Pengalaman merebut dan mempertahankan kemerdekaan juga memperlihatkan betapa spirit usaha dan mental - huruf kepahlawanan mempunyai daya hidup yang luar biasa dalam menghadapi aneka macam rintangan dan penderitaan.

Peringatan Hari Pahlawan harus bisa menggali apinya, bukan abunya. Dengan meminjam ungkapan Bung Karno, semangat kepahlawanan itu ialah semangat rela berjuang, berjuang mati-matian dengan penuh idealisme dengan mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi.

Semangat Kepahlawanan ialah semangat persatuan, persatuan yang bulat-mutlak dengan tiada mengecualikan sesuatu golongan dan lapisan. Semangat Kepahlawanan ialah semangat membentuk dan membangun negara.

Saudara-saudara para patriot bangsa yang budiman,

Setiap zaman mempunyai tantangannya tersendiri. Dan oleh alasannya ialah itu, setiap zaman harus berbagi respon kepahlawanan yang sesuai dengan zamannya.

Setelah Indonesia merebut kemerdekaannya, Semangat Kepahlawanan tidak cukup hanya dengan mempertahankan patriotisme defensif, kita butuh patriotisme yang lebih aktual dan progresif. Patriotisme sejati bukan sekadar mempertahankan melainkan juga memperbaiki keadaan negeri. Untuk keluar dari aneka macam dilema bangsa hari ini, patriotisme progresif dituntut menghadirkan kemandirian bangsa tanpa terperosok pada perilaku anti-asing.

Saudara-saudara para patriot bangsa yang budiman,

Dalam rangka mencapai perikehidupan kebangsaan yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur, patriotisme progresif harus berbagi ketahanan bangsa untuk bisa sanggup berdiri diatas kaki sendiri dalam ekonomi, berdaurat dalam bidang politik dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Sejalan dengan orientasi Trisakti tersebut, Pemerintahan Presiden Jokowi dan Wakil presiden H.M' Jusuf Kalla hadir dengan memperlihatkan VISI transformatif: "Terwujudnya Indonesia yang berdaulat, sanggup berdiri diatas kaki sendiri dan berkepribadian berlandaskan gotong-royong."

Dalam kerangka mewujudkan visi tersebut terah dirumuskan sembilan kegiatan prioritas pemerintahan ke depan yang disebut NAWA CITA. Kesembilan kegiatan prioritas itu bisa dikategorisasikan ke dafam tiga ranah; ranah mental-kultural, ranah material (ekonomi) dan ranah politik. pada ketiga ranah tersebut, Pemerintah ketika ini berusaha melaksanakan aneka macam perubahan secara aksereratif , berlandaskan prinsip-prinsip pancasira dan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Ketiga ranah pembangunan tersebut bisa dibedakan tapi tak sanggup dipisahkan. satu sama rain saling memerlukan pertautan secara sinergis. Perubahan mental -kultural memerlukan santunan politik dan material berupa politik kebudayaan dan ekonomi budaya. sebaliknya perubahan politik memerlukan santunan budaya dan material berupa budaya demokrasi dan ekonomi politik. Begitupun perubahan material memerlukan santunan budaya dan politik berupa budaya ekonomi dan politik ekonomi.

Dalam Amanat Presiden pada Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, L7 Agustus 1956, setahun sehabis Pemilihan Umum pertama tahun 1955, Bung Karno menjelaskan tiga fase revolusi bangsa. Dua fase telah dilalui dengan berhasil, dan satu fase lagi menghadang sebagai tantangan. Indonesia telah melewati "Taraf physical revolution" dan "taraf sutvival" . Lantas Bung Karno tandaskan, "sekarang kita berada pada taraf investment, yaitu taraf menanamkan modal-modal dalam arti yang seluas-luasnya: investment of human skill, material investment, dan mental investment"

Dalam pandangannya, investasi keterampilan dan material amat penting. Akan tetapi, yang lebih penting lagi ialah investasi mental. Investasi keterampilan dan material tidak bisa menjadi dasar persatuan dan kemakmuran bersama tanpa didasari investasi mental. Tanpa kekayaan mental, upaya-upaya pemupukan keterampilan dan material hanya akan melanggengkan perbudakan."

Selanjutnya Bung Karno mengingatkan: "Kelemahan jiwa kita ialah, bahwa kita kurang percaya kepada diri kita sendiri sebagai bangsa, sehingga kita menjadi bangsa penjiplak luar-negeri, kurang percaya-mempercayai satu sama lain, padahal kita ini pada asalnya ialah rakyat gotong-royong, kurang berjiwa gigih melainkan terlalu lekas mau yummy dan 'cari gampangnya saja'. Dan itu semua, alasannya ialah makin menipisnya 'rasa harkat nasional',--makin menipisnya rasa'national dignihy'--, makin menipisnya rasa besar hati dan rasa-hormat terhadap kemampuan dan kepribadian bangsa dan rakyat sendiri."

Saudara sebangsa dan setanah air, patriot bangsa yang budiman,

Gerakan revolusi mental diperlukan bisa mendorong Gerakan Hidup Baru, dalam bentuk:
  1. Perombakan cara berfikir, cara kerja, cara hidup, yang merintangi kemajuan.
  2. Peningkatan dan pembangunan cara berfikir, cara kerja, dan cara hidup yang baik.
Singkat kata, Gerakan Hidup Baru ialah gerakan revolusi mental "untuk menggembleng insan Indonesia ini menjadi manusia baru, yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat Elang Rajawali. Berjiwa api yang menyala-nyala."

Itulah jiwa patriotisme progresif yang harus kita kobarkan dalam menghadapi tantangan dan dilema pembangunan hari ini.

Tantangan dan dilema yang kita hadapi ketika ini memang berat. Akan tetapi, kita dihentikan putus pengharapan. Para Pahlawan Kusuma Bangsa mengajarkan pada kita arti penting perjuangan, ketabahan dan harapan. Bahwa barangsiapa yang ingin mempunyai mutiara harus besar lengan berkuasa menahan nafas, dan berani terjun menyelami samudera yang sedalam-dalamnya.

Melalui momentum Peringatan Hari Pahlawan 10 November 2019 yang dilaksanakan dengan aneka macam kegiatan, kita sanggup mengambil makna yang terkandung didalamnya dengan meneladani nilai-nilai luhur yang diwariskan kepada kita semua ibarat : taqwa kepada Tuhan YME, pantang menyerah, jujur dan adil, percaya kepada kemampuan sendiri serta kerja keras untuk membangun Indonesia yang sejahtera sebagaimana keinginan para Pahlawan Bangsa.

Dengan suatu tekad dan ketulusan untuk bersama-sama saling gotong royong dan dilandasi oleh makna dan nilai integritas, etos kerja dan gotong royong, maka saya yakin bangsa Indonesia sanggup mengatasi aneka macam permasalahan yang melanda, dan sanggup menjadi bangsa "Pemenang" bisa bersaing dengan negara dan bangsa lain. Hal ini sejalan dengan Tema Hari Pahlawan 2019 yaitu : "Satukan Langkah Untuk Negeri".

Tema ini juga mengandung pesan kepada kita semua untuk bersatu dalam kebersamaan dan kebersamaan dalam persatuan untuk mewujudkan keinginan negeri yang kita cintai ini.

Selain itu melalui Peringatan Hari Pahlawan 2019 sebagai bangsa yang besar, bangsa yang harus menghargai jasa para pahlawannya, Peringatan Hari Pahlawan diperlukan pula sanggup lebih membangkitkan semangat kebangsaan, menumbuhkembangkan Nilai-nilai Kepahlawanan serta meningkatkan kecintaan kepada tanah air kita dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pada kesempatan Yang baik ini kami mengajak kepada seluruh lapisan masyarakat untuk terus berjuang, bekerja , berkarya menjadi hero bagi diri sendiri, hero bagi lingkungan, hero bagi masyarakat maupun hero bagi negeri ini, Selamat Hari Pahlawan Tahun 2019.

Demikian , supaya Allah Tuhan Yang Maha Esa senantiasa melindungi bangsa dan negara Indonesia. Amin.

Sekian dan terima kasih.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
 Ibu Khofifah Indar Parawansa pada Upacara Peringatan Hari Pahlawan ke Amanat Menteri Sosial RI pada Upacara Peringatan Hari Pahlawan 2020
Silakan Download Teks Naskah Pidato Sambutan Mensos RI pada Upacara Peringatan Hari Pahlawan ke-71 Tahun 2019.

Demikian tentang Amanat Menteri Sosial RI pada Upacara Peringatan Hari Pahlawan 10 November 2019. Semoga bermanfaat.

Posting Komentar untuk "Amanat Menteri Sosial Ri Pada Upacara Peringatan Hari Pendekar 2019"